Menapaki sejarah masuknya agama Katolik ke wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak dapat dipisahkan dari kisah berdirinya Gereja Ganjuran yang berada di Bantul, 17 kilometer ke arah selatan dari Kota Yogyakarta. Gereja Ganjuran ini meski bukanlah sebuah gua Maria (tempat ziarah Katolik), namun amat tersohor baik bagi umat Katolik dan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Hal ini dikarenakan lokasi ini pula penuh dengan sejarah dan keunikan yang membuatnya berbeda dari gereja-gereja yang lain. Keberadaan sebuah candi buatan yang arsitekturnya terinspirasi dari Candi Prambanan pun menambah keindahan dari Gereja Ganjuran. Gereja Ganjuran pun dinilai sebagai salah satu lokasi doa hening dan khusyuk terbaik, menjadikannya sebagai destinasi wisata religi favorit bagi pengunjung domestik dari seluruh Indonesia.

Gereja Ganjuran

Gereja Ganjuran

Nama Gereja Ganjuran ini sesuai dengan nama daerah letak gereja berdiri, Ganjuran, Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. Asal mula mengapa Gereja ini berdiri yaitu waktu dahulu sekitar tahun 1924, keluarga pengusaha pabrik gula yang berasal dari Belanda, bernama keluarga Schmutzer membangun sebuah gereja, rumah sakit, dan 12 sekolah di wilayah ini. Pembangunan besar-besaran ini didasari atas ucapan berkat keluarga Schmutzer karena pabrik gula milik mereka tidak gulung tikar paska krisis yang melanda saat itu. Justru pada tahun 1918-1930 pabrik gula mereka mengalami masa-masa keemasan. Dalam perkembangannya beberapa karyawan pabrik juga menjadi pengikut agama nasrani ini, sehingga terbentuklah komunitas katolik di wilayah tersebut. Gereja Ganjuran ini yang menjadi basis kegiatan ibadat umat daerah Bantul sampai dengan sekarang.

Gereja Ganjuran

Gereja Ganjuran

Arsitektur khas Jawa dan candi yang berada tidak jauh dari Gereja yang cantik membuat Gereja ini tidak hanya didatangi oleh umat agama Katolik saja. Lokasi ini memang terbuka untuk umum, asal pengunjung tidak gaduh dan mengganggu keheningan. Memasuki kompleks Gereja Ganjuran sangat terasa nuansa Jawa nan kental. Patung-patung Yesus dan Bunda Maria di tempat ini terinspirasi dari patung-patung pada candi. Jangan kaget, apabila Yesus dan Bunda Maria digambarkan memakai busana adat Jawa dengan posisi seperti arca Hindu. Visualisasi ini diciptakan oleh seniman lokal bernama Iko, membantu keluarga Schmutzer membangun Gereja Ganjuran ini. Candi di Gereja ini dinamakan Candi Hati Kudus Yesus, bebatuannya diambil dari material Gunung Merapi, reliefnya dipahat dan diukir manual dengan tangan. Relief yang mendominasi candi ini adalah relief bunga teratai. Lokasi ini merupakan lokasi berziarah, maka di samping candi terdapat air suci yang sangat segar baik untuk diminum. Di depan candi disediakan tempat duduk untuk berdoa.

Gereja Ganjuran sudah beberapa kali mengalami renovasi dari bentuk aslinya. Kini bentuknya yang seperti rumah joglo dengan dominasi warna kuning dan hijau. Pilar-pilar Gereja membentuk ukiran ulir-ulir khas Jawa semakin membuat takjub setiap pengunjung yang datang ke lokasi ini. Misa yang diadakan di Gereja Ganjuran pun diadakan dalam Bahasa Jawa, musiknya pun memakai gamelan dan lagunya lagu keroncong. Setiap akhir minggu, terlebih di Bulan Maria seperti Mei dan Oktober, Gereja Ganjuran ramai dikunjungi oleh peziarah yang menginap. Biasanya mereka yang menginap kebanyakan pelajar dan mahasiswa Yogyakarta. Mengunjungi Gereja Ganjuran dapat menjadi salah satu pilihan lokasi wisata Anda. Labiru Tour menyediakan berbagai paket wisata Jogja, termasuk paket wisata rohani. Selain Gereja Ganjuran kami akan mengajak Anda ke berbagai spot-spot religius di Yogyakarta dan sekitarnya. Segera hubungi kami untuk informasi selanjutnya!

Silahkan berkomentar