Kota Yogyakarta sebagai kota multi-etnis memiliki wilayah-wilayah yang secara khusus didiami oleh warga dengan etnis tertentu. Mungkin pernah dengar sebelumnya seperti Kampung Cina Ketandan dan Kampung Arab Kauman. Dua tempat tersebut merupakan contoh dari kampung-kampung etnis yang sarat budaya dan dilestarikan sampai dengan sekarang. Adanya perkampungan warga Tionghoa menyebabkan beberapa pengaruh kebudayaan turut menyumbang keanekaragaman budaya yang ada di Yogyakarta, salah satu kebudayaan tersebut dapat kita lihat dalam bentuk bangunan Klenteng.

250212-foto3-20

Klenteng adalah tempat beribadah orang-orang (baik Tionghoa maupun bukan) yang masih menganut aliran kepercayaan Konghucu dan Buddha. Salah satu klenteng yang harum namanya di Kota Yogyakarta ialah Klenteng Poncowinatan. Klenteng ini terletak di belakang Pasar Kranggan, tidak jauh dari Tugu Yogyakarta. Klenteng Poncowinatan ini sangat mudah ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun umum (seperti becak, ojek atau bus way). Hanya sekitar 15 menit dari Malioboro, dari Tugu sendiri waktu tempuh cukup 5 menit saja, sangat dekat.

Permainan-Liong-Dari-Dupa

Klenteng Poncowinatan memiliki nama asli Zen Ling Gong, hanya saja karena letaknya di daerah Poncowinatan maka klenteng ini memang lebih familiar dipanggil dengan nama Klenteng Poncowinatan. Terkadang Klenteng ini juga disebut dengan sebutan Klenteng Kranggan, Kranggan adalah nama pasar yang terletak tidak jauh dari Klenteng. Klenteng ini telah berdiri sejak tahun 1881, dibangun di atas tanah milik Kesultanan Yogyakarta. Dahulu selain sebagai tempat beribadah, di lahan yang sama berdiri sebuah sekolah Tionghoa dan sebuah asrama untuk pendeta klenteng. Seberjalannya waktu di masa kini, pengunjung hanya akan melihat bangunan asli klenteng tanpa sekolah dan asrama. Kini, pemerintah telah menetapkan bahwa Klenteng Poncowinatan merupakan salah satu cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah kota.

Suasana-Klenteng-Poncowinatan

Memasuki Klenteng ini dapat dilakukan sepanjang hari, baik pagi, siang, maupun malam. Di pagi hari jalanan dekat Klenteng Poncowinatan seringkali terlihat ramai karena posisi nya yang membelakangi Pasar Kranggan, jadi banyak sekali orang lalu-lalang, terkadang juga memarkirkan kendaraan di halaman parkir di depan Klenteng. Acara di hari spesial umat Tionghoa rutin diadakan setiap tahunnya di Klenteng ini, seperti Tahun Baru Imlek dan Festival Kue Bulan. Di Tahun Baru Imlek aka nada beberapa acara kebudayaan yang juga ikut mendukung Perayaan Festival Ketandan di Malioboro. Yang menarik adalah ketika Festival Kue Bulan, dimana pusat perayaannya memang berada di Klenteng ini. Ada acara bagi-bagi kue bulan (kue khas Festival Kue Bulan), lelangan, tari-tarian, menyanyi bersama (dalam Bahasa Mandarin), pertunjukan Barongsai dan Liong, dan lain-lain. Suasana baik ketika Imlek, Cap Go Meh, maupun Festival Kue Bulan sama-sama ramai, dan yang menarik pengunjungnya bukan hanya dari kalangan etnis Tionghoa saja, tetapi seluruh masyarakat berbaur untuk merayakan hari-hari spesial.

Ingin mengunjungi Klenteng Poncowinatan segera liburan tahun ini? Segera reservasi wisata Anda di Labiru Tour. Kami menyedaiakan paket wisata dan berfokus pada kepuasan Anda, jaminan mutu dan harga bersaing. Selain mengunjungi Klenteng Poncowinatan kami memiliki segudang daftar lokasi wisata lain yang dapat Anda kunjungi. Kami tunggu kontak dari Anda!

Silahkan berkomentar