Melewati jalan ringroad utara Kota Yogyakarta, Anda akan dibuat takjub oleh sebuah bangunan yang memiliki bentuk unik menyerupai piramida, menjulang tinggi tepat di pinggir jalan besar. Warnanya putih mengkilat diterpa matahari pagi. Di sekitarnya banyak wahana permainan dan berbagai bentuk lampion. Bangunan apakah itu? Itu adalah Monumen Jogja Kembali, atau akrab disebut Monjali oleh masyarakat Yogyakarta. Terlihat dari jauh Monjali ini mirip seperti bangunan bermodel futuristik, namun tak disangka di dalam Monjali ini justru tersimpan kisah-kisah sejarah perjuangan perebutan kemerdekaan Indonesia.

Merupakan gagasan dari walikota pada saat itu, Kolonel Sugiarto, untuk membangun sebuah bangunan untuk mengenang peristiwa ditariknya pasukan kolonial Belanda dari Kota Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibu kota negara kita tercinta, Indonesia. Peristiwa itu sendiri bermakna bahwa kekuasaan Belanda telah menghilang dan mendapati Indonesia yang bebas merdeka. Bentuk kerucut dari Monjali ini ternyata terinspirasi dari bentuk gunung yang melambangkan kesuburan serta bermakna bahwa gunung adalah bentuk pelestarian budaya yang diwariskan leluhur. Ketinggian dari bangunan monumen ini ialah 31,8 m, dengan luas tanah 5,6 hektar. Bagian dalam monumen memiliki 3 lantai terbagi menjadi beberapa bagian. Di sekitaran Monjali dikelilingi kolam dan taman, yang kini dipergunakan sebagai arena bermain keluarga dan taman lampion bernama Taman Pelangi.

wisata monjali

Monumen Jogja Kembali

Pertama kali menginjakkan kaki di gerbang Monjali, pengunjung akan merasakan atmosfer perjuangan. Di taman Monjali terdapat replika meriam dan pesawat yang dengan gagah menyambut pengunjung yang datang. Tidak jauh dari situ, dari kejauhan akan terlihat tembok rana yang berisi nama-nama pahlawan yang meninggal ketika Wehrkreise III dan puisi ‘Karawang-Bekasi’ ciptaan Khairil Anwar. Memasuki lantai satu dari Monjali, pengunjung akan menemukan koleksi-koleksi foto, kliping, alat, senjata, dokumen yang menjadi saksi bisu perjuangan kemerdekaan dari tahun 1945-1949. Di lantai ini pula terdapat perpustakaan yang mengkoleksi berbagai buku tentang perjuangan kemerdekaan. Di tengah lantai satu terdapat ruang serba guna yang dapat dipergunakan untuk pagelaran tari, pernikahan, wisuda, dll.

liburan jogja monjali

Museum Monjali

Lantai dua dari Monjali adalah pelataran luar yang mengelilingi bangunan berbentuk gunung ini. Dihias dengan relief-relief modern mengenai perebutan kemerdekaan. Di dalam lantai dua ini pula terdapat diorama-diorama yang berukuran seperti asli dari peristiwa agresi militer. Di lantai terakhir, yaitu lantai tiga, adalah Garbha Graha yang merupakan sebuah ruang hening untuk meresapi perjuangan para pahlawan kemerdekaan Indonesia. Di dalam ruangan ini terdapat relief tangan raksasa yang bermakna sebagai perjuangan fisik dan diplomasi ketika zaman itu. Sebagai sebuah monumen perjuangan kemerdekaan, Monjali dapat dengan apik menampilkan kisah perjuangan tersebut dan berhasil mengabadikannya untuk dinikmati oleh generasi masa kini.

Apabila Anda ingin berkunjung ke Monjali, caranya sangat mudah baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dengan kendaraan pribadi, cukup Anda berkendara ke arah utara (tembusan ringroad), berbagai papan petunjuk di jalan protokol akan sangat membantu, perjalanan menggunakan kendaraan pribadi menghabiskan waktu sekitar 15-20 menit dari pusat kota. Lalu apabila dengan menggunakan transportasi masal bus Trans Jogja, berhentilah di shelter Monjali. Dari shelter Monjali cukup berjalan beberapa meter saja, pengunjung akan disambut oleh sang bangunan kerucut. Cukup mudah, bukan. Apabila Anda berminat untuk mengunjungi Monjali diikuti dengan lokasi wisata lain tanpa ingin repot, boros, dan membuang waktu, Anda dapat menghubungi Labiru Tour and Travel. Kami akan membantu mewujudkan perjalanan impian Anda!

Silahkan berkomentar