Ruas Jalan Laksda Adisutjipto Yogyakarta memang terkenal dengan hiruk-pikuk lalu lintasnya. Jalan besar ini termasuk jalan yang terpadat dan tersibuk di kota budaya ini. Bagaimana tidak, di sepanjang jalan berdiri banyak bangunan, baik itu perkantoran, sekolah, restoran, hotel, dan pusat perbelanjaan. Bangunan di sini pun nampak lebih modern daripada di jalan-jalan lainnya. Bisa dikatakan Jalan Laksda Adisutjipto ini salah satu jantung perekonomian Yogyakarta. Di tengah kesibukan yang berlangsung tujuh hari seminggu, 24 jam sehari, tak disangka ada satu tempat yang bertempat di jalan ini yang menawarkan keheningan dengan balutan suasana tradisional yang kental.

Satu tempat itu adalah Kedhaton Ambarrukmo atau biasa juga disebut Pesanggrahan Ambarrukmo yang letaknya persis di pinggir Jalan Laksda Adisutjipto dan diapit oleh dua bangunan tinggi nan modern, Mall Ambarrukmo dan hotel berbintang lima Royal Ambarrukmo. Pengunjung yang ingin berkunjung dapat mencapai lokasi dengan transportasi umum, bus Trans Jogja yang letak shelter nya persis di depan hotel Royal Ambarrukmo dan di seberang Mall Ambarrukmo. Tidak banyak orang yang menyadari bahwa di tengah hingar-bingar jalan besar dan pusat keramaian terdapat sebuah cagar budaya.

kedhaton ambarrukmo

Kedhaton Ambarrukmo

Memasuki area Kedhaton Ambarrukmo, pengunjung akan melewati pelataran luas (pendopo) ciri khas bangunan-bangunan keraton. Lalu tidak jauh di belakangnya terdapat bangunan yang bentuknya seperti rumah, dengan arsitektur yang oldies namun cantik dan enak dilihat. Kedhaton Ambarrukmo kini tidak nampak seperti bangunan tua yang kurang terurus, seberjalannya waktu pemerintah daerah merenovasi cagar budaya ini, konon Kedhaton Ambarrukmo ini adalah satu-satunya pesanggrahan (tempat peristirahatan aja) yang masih ada hingga kini. Kini, di dalam Kedhaton Ambarrukmo dijadikan mini museum yang memuat beberapa barang peninggalan keraton.

Sejarah menyebutkan bahwa Kedhaton Ambarrukmo ini dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono V sebagai tempat peristirahatan, namun tidak sampai dengan selesai. Lalu, pada akhirnya yang menyelesaikan pembangunan ini adalah Sultan Hamengku Buwono VII yang ketika itu dikenal sebagai raja yang banyak melakukan pembangunan di kota Yogyakarta. Tempat ini kemudian dijadikan tempat menghabiskan hari tua Sultan Hamengku Buwono VII setelah beliau turun tahta. Kedhaton Ambarrukmo juga memiliki lahan hijau yang cukup luas, hal ini dikarenakan dahulu lokasi ini juga diperuntukan sebagai kebun. Selain itu, bangunan bersejarah ini juga menjadi saksi bisu perjuangan kemerdekaan negara kita.

Di dalam bangunan Kedhaton, terdapat 4 buah ruangan yang kini, sejak menjadi mini museum, masing-masing ruangan memiliki ekshibisi. Ada yang memamerkan koleksi keris, wayang, batik, dan juga yang spesial ada satu ruangan untuk menyimpan barang-barang peninggalan Sultan Hamengku Buwono VII. Selain itu, di luar kamar-kamar ekshibisi tersebut banyak ditemukan lukisan-lukisan para Raja Mataram mulai dari Sultan Hamengkubuwono I sampai dengan Sultan Hamengku Buwono X. Lalu ada pula papan informasi yang berisi cerita sejarah dan perjuangan kemerdekaan negara Indonesia. Bagi pengunjung yang memerlukan penutur atau guide museum ini, ada Bapak Abdi Dalem yang siap siaga memperkenalkan dan menceritakan sejarah dari cagar budaya ini.

Petualangan tidak berhenti sampai di situ, di belakang bangunan terdapat taman cantik, bernama Taman Balekambang. Taman ini memiliki menara yang untuk menaikinya pengunjung harus melepaskan sepatu. Di sekitaran menara dikelilingi oleh kolam yang jernih airnya. Suasana syahdu dan tenang meliputi taman ini. Di sini pengunjung juga dapat membayangkan bagaimana ketika dahulu Sultan Hamengku Buwono VII menghabiskan masa pensiunnya dengan damai tentram di tempat ini.

Penasaran dengan Kedhaton Ambarrukmo yang tenang di tengah keramaian kota? Segera reservasi liburan Anda di Labiru Tour. Kami menyediakan segala kebutuhan liburan anda. Kami tunggu.

Silahkan berkomentar